Menyediakan Berbagai Berita Seputar Terknologi Terbaru, Tercanggih, dan Terupdate

APM dan IU Bakal ‘Puasa’ Mobil Mewah


Kian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar memang berdampak besar bagi sejumlah pelaku industri di Tanah Air. Paling terkena imbasnya adalah pada sektor otomotif, dimana saat ini, beberapa materialnya masih dikirim dari luar negeri dengan mata uang dolar.
Sejumlah kebijakan pun terus digulirkan demi ‘menyelamatkan’ sektor industri otomotif Indonesia di mata dunia. Salah satu yang menjadi fokus pemerintah saat ini yaitu peningkatan jumlah ekspor, dan penetapan larangan impor mobil mewah berkapasitas mesin di atas 3.000 cc.
Langkah ini diambil, menurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto diharapkan dapat menekan defisit neraca perdagangan.
“Kami bakal batasi impor mobil di atas 3.000 cc. Hal ini untuk menggenjot produksi nasional sendiri yang kapasitasnya sudah mampu mencapai dua juta unit,” kata Airlangga di sela-sela acara “Realisasi 1 Juta Unit Ekspor CBU” di Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (5/9).

Dia menambahkan, ini berarti permintaan mobil untuk memenuhi kebutuhan domestik sudah bisa dipenuhi dari para produsen yang sudah melakukan lokalisasi produknya.
“Hari ini kita saksikan Indonesia melalui Toyota sudah bisa melakukan ekspor ke sejumlah negara tujuan ekspor. Jadi sebenarnya tidak ada kepentingan lagi untuk impor kendaraan,” tuturnya.
Kala disinggung sampai kapan larangan impor mobil mewah tersebut berlaku, pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar ini menegaskan, sampai barang itu tidak menjadi mewah lagi.
Hal ini cukup mengindikasikan bahwa para pelaku importir umum (IU) akan mengalami masa ‘puasa’ yang berkepanjangan untuk menggelontorkan produk-produk baru ke Tanah Air.
Disisi lain, Airlangga mengakui melonjaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar terjadi karena gejolak pasar, dan dirinya mengibaratkan bahwa saat ini pasar dunia sedang ‘batuk’. Antisipasinya?
“Antisipasi pasti akan ada adjustment. Kedua, tadi telah disampaikan industri ini 70-90% adalah local content, nah ini tentu mengurangi dampak fluktuasi terhadap nilai tukar dolar,” tambahnya.

Pandangan lain terkait pembatasan mobil-mobil mewah coba dilontarkan oleh Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika.
Menurutnya, kondisi pembatasan tersebut bergantung pada geliat ekonomi di Tanah Air, sebab kata dia, sesuai arahan Presiden untuk sementara diminta untuk dikurangi.
“Awalnya ini berlaku untuk barang-barang mewah yang kita hentikan sementara, sekarang itu benar-benar kita stop untuk mobil-mobil bermesin 3.000 cc ke atas. Dalam kondisi ekonomi saat ini, kebutuhan akan mobil bisa ditunda karena bukan kebutuhan pokok. Transportasi pake produk dalam negeri dulu, dalam keadaan gini sama-sama perbaiki (keadaan),” pungkasnya.
sumber: dapurpacu.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@templatesyard